Kamis, 05 April 2012

Bab 9 – “Memasuki Malam Zafaf Bahagian 1″

Bab 9 – “Memasuki Malam Zafaf Bahagian 1″


Kalau sudah ada kerelaan untuk menjadi teman hidup, maka tunggu sesaat lagi jalinan perasaan itu  akan sah. Sesaat lagi, apa-apa yang haram bagi kita telah menjadi halal atas kurnia Allah. Sesaat lagi, seorang jejaka mulai wajib memberikan kelembutan sikap kepada wanita yang beberapa waktu lalu dipinangnya. Sesaat lagi, seorang wanita mulai mempunyai kewajiban untuk bertaba’ul (pengurusan dan pelayanan). Hal ini kelak di akhirat akan dipertanggungjawabkan kepada kita. Ada perjanjian yang sangat berat kepada Allah, sehingga Allah memberi hak kepada kita beberapa kesenangan dan memberi amanah di balik kesenangan-kesenangan itu. Perjanjian ini terikat sesaat lagi, ketika seorang ayah mengucapkan ijab atas anak gadisnya dan seorang laki-laki mengucapkan qabul (penerimaan) untuk mengikat jalinan perasaan sebagai suami-isteri.
Inilah akad nikah. Inilah akad yang menjadikan halal apa-apa yang sebelumnya haram, dan membuat berpahala apa-apa yang sebelumnya merupakan dosa.
Ikatan Itu Bernama Mitsaqan-Ghalizhan
Nabi berdiri di Mina, di Masjid Kheif. Dia memandang ribuan jemaah yang hadir untuk menunaikan haji di sekelilingnya. Kemudian bibirnya yang tidak pernah berdusta menyebutkan pujian kepada Allah. Lalu memulakan khuthbahnya.
“Wahai manusia,” kata Rasulullah s.a.w. berseru, “dengarkan penjelasanku baik-baik, kerana aku tidak tahu apakah aku masih berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini pada tahun yang akan datang.”
Suara Rasulullah bergetar. Para sahabat merasa ada yang akan hilang. Ada tangis yang terasa, tapi menahannya di tenggorokan. Ada kesedihan. Ucapan Rasulullah s.a.w. kali ini,  mengisyaratkan  perpisahan.  Tahun  hadapan  mungkin  Rasulullah s.a.w.  sudah  tidak bersama mereka lagi. Betapa besar kehilangan kalau Rasulullah s.a.w benar-benar dipanggil oleh Yang Mengutusnya, Allah subhanahu wa ta’ala. Betapa besar kehilangan kalau kali ini adalah haji perpisahan, haji wada’, sedangkan wajah suci itu telah bertahun-tahun membimbing mereka sekaligus menanggung luka-luka dalam beberapa peperangan. Para sahabat merasakan kesedihan itu.
Kemudian  Rasulullah s.a.w. berkata,  “Apakah  aku  sudah  menyampaikan  risalah Tuhanku kepada kalian?”
Para sahabat menjawab dengan suara serentak, dengan gemuruh yang sama, dan dengan jawapan yang sama, “Benar. Engkau sudah menyampaikan risalah kepada kami.”
Allahumma isyhad. Ya Allah, saksikanlah!” Sebagian sahabat sudah tidak sanggup lagi menahan tangisan mereka. Mereka mengetahui bahawa tugas Nabi sudah berakhir, kata K.H. Jalaluddin Rakhmat.
“Wahai manusia,” begitu kata Nabi selanjutnya, “Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Tahukah kalian hari apakah sekarang ini?” “Hari yang suci.” “Negeri apakah ini?” “Negeri yang suci.” “Bulan apakah ini?” “Bulan yang suci.”
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali kerana takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”
Suara para sahabat bergemuruh. Mereka menjawab, “Benar.” Begitulah setiap kali Nabi menyampaikan satu bahagian (maqtha’) nasihatnya, beliau mengakhirinya dengan “apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”; dan para sahabat menjawab serentak dengan “benar”. Setiap kali beliau memulai bahagian nasihatnya, kata Kang Jalal, beliau berkata, “Semaklah bicaraku, kalian akan memperoleh manfaat sesudah aku tiada. Fahamilah baik-baik supaya kalian memperoleh kemenangan.”
Hari ini, Rasulullah s.a.w. telah tiada. Dan sekarang, saya ingin menyampaikan salah satu pesanan Rasulullah s.a.w. saat itu, ketika Anda sudah menguatkan hati untuk mengikat perjanjian yang sangat berat (mitsaqan-ghalizhan). Isteri Anda mempunyai hak atas Anda kerana perjanjian itu. Ia mempunyai hak yang suci, sama sucinya dengan hari ketika khuthbah perpisahan itu diucapkan.
Ketika Anda sudah mengikat perjanjian yang sangat berat, tahukah Anda apa hak isteri Anda? Dan ketika Anda menerima perjanjian berat dari suami Anda, tahukah Anda hak suami atas Anda?
Di haji wada’ itu, Rasulullah s.a.w. mengingatkan dengan peringatan suci, “Wahai manusia, sesungguhnya isteri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana  kalian  mempunyai  hak  atas  mereka.  Hak  kalian  atas  mereka  ialah mereka (para isteri) tidak boleh mengizinkan orang yang tidak kalian senangi masuk ke rumah kecuali dengan izin kalian. Terlarang bagi mereka melakukan kekejian. Jika mereka berbuat keji, bolehlah kalian menahan mereka dan menjauhi tempat tidur mereka, serta memukul mereka dengan pukulan yang tidak melukai mereka. Jika mereka taat, maka kewajiban kalian adalah menjamin rezeki dan pakaian mereka sebaik-baiknya. Ketahuilah, kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan Kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus isteri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik.”
“Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik,” begitu kata-kata terakhir dari Rasulullah s.a.w. ketika mengingatkan kita tentang kewajiban di balik amanah pernikahan. Ada yang harus dijaga dalam perjanjian yang sangat berat ini (mitsaqan-ghalizhan). Ada yang harus diperjuangkan karena amanah ini.
Ada yang besar dalam perjanjian berat ini. Hati yang menerima, jiwa yang rela, sikap yang memberi ketenteraman, dan kesediaan untuk berjuang bersama. Sudahkah engkau bersedia? Aku bertanya kepada diriku sendiri dan juga kepadamu.
Perjanjian berat akan kita ikrarkan. Allah dan para malaikat menjadi saksi. Para tetamu juga menjadi saksi. Ada yang menjadi saksi khusus ketika perjanjian berat itu diucapkan.
Akad nikah memang wajib ada saksi. Sebenarnya, apakah saksi itu? Mengapa perjanjian berat ini memerlukan saksi? Padahal Allah Maha Tahu dan tak ada yang boleh disembunyikan dari penglihatanNya.
Maha Besar Allah. Sungguh Allah tidak pernah zalim kepada setiap makhlukNya. Pernikahan memerlukan saksi untuk mengingatkan kepada kita tentang amanah di sebaliknya. Mudah-mudahan kita selalu ingat dan tetap menjaganya sampai kelak bertemu dengan Allah di Hari Kiamat.
Jadi, ikatan pernikahan bukanlah ikatan main-main. Ada kesenangan-kesenangan di dalamnya yang boleh kita rasakan bersama, dan ada amanah di baliknya. Ada sebuah amanah besar.
Sekarang  ketika  ayah  dari  calon  isteri  Anda  akan  mengucapkan  ijab  nikah, marilah kita perhatikan beberapa hal berkenaan dengan Ijab-Qabul Nikah.
Mengucapkan Ijab-Qabul Nikah
Perjanjian berat itu terikat melalui beberapa kalimah sederhana. Pertama adalah kalimath ijab,  iaitu  keinginan  pihak  wanita  untuk  menjalin  ikatan  rumah  tangga dengan seorang lelaki. Kedua adalah kalimah qabul, iaitu pernyataan menerima keinginan dari pihak pertama untuk maksud tersebut.
Ijab qabul   adakalanya   diucapkan   dalam   bahasa   Arab.   Adakalanya   juga diucapkan dalam bahasa setempat. Kedua-duanya boleh dipakai. Ibnu Taimiyyah mengatakan,  ikatan  nikah  boleh  terjalin  dengan  ungkapan  yang  bermakna  nikah, dengan kata dan bahasa apa pun.
Mana yang lebih afdhal? Mana yang lebih baik untuk dipakai? Wallahu A’lam bishawab. Nikah adalah perjanjian yang berat. Kita perlu menghayati ucapan ijab qabul. Salah satu syarat ijab qabul adalah kedua pihak memiliki sifat tamyiz (mampu membezakan baik dan buruk), sehingga ia memahami perkataan dan maksud dari ijab qabul itu. Di atas pemahaman terhadap maksud ijab qabul, ada penghayatan.
Sebahagian dari kita mungkin lebih dapat merasakan makna di balik perjanjian yang sangat berat ini ketika diucapkan dalam bahasa Arab, kerana ini merupakan bahasa Al-Qur’an. Tetapi sebahagian lainnya, lebih dapat merasakan makna dari setiap kata yang  didengar  dan  diucapkan  ketika  ketika  menggunakan bahasanya  sehari-hari, misal bahasa Indonesia.
Jika Anda lebih mudah merasakan makna ijab qabul dalam bahasa Arab, Anda boleh  memilih untuk  menggunakan bahasa  Arab  ketika  berlangsung akad  nikah. Tetapi jika Anda lebih mampu menghayati dan lebih mudah terharu dengan bahasa Indonesia, sesungguhnya akad nikah dalam bahasa Indonesia tidak membuatnya lebih rendah nilainya dibanding bahasa Arab. Jika dengannya Anda lebih merasakan kedalaman erti akad nikah, insyaAllah bahasa Indonesia adalah lebih baik.
Yang  jelas,  apa  pun  bahasa  yang  digunakan,  akad  nikah  hendaklah  tidak berbelit-belit dan terlalu mempersukar proses demi kesempurnaan adat istiadat. Keagungan pernikahan tidak diukur dari lengkap tidaknya mengulang kalimah ijab ketika mengucapkan qabul. Ini sekadar satu contoh saja.
Juga, hendaknya kita tidak terjebak ke dalam keinginan untuk mencapai “suasana khusyuk”   sehingga   justeru   mempersukar   diri.   Jika   kita   melihat   kisah-kisah pernikahan di masa shahabat dan beberapa generasi berikutnya, kita sering mendapati proses akad nikah yang begitu sederhana.  Kadang-kadang terasa “terlalu sederhana” untuk ukuran kita yang senang berbelit-belit ini. Misalnya, bukan hal yang aneh kalau kita membaca seseorang minta dinikahkan –meminang– lalu orang tua si perempuan mengatakan, “Ya, kau kunikahkan dengan Fulanah binti Fulan.” Selesai. Dan dari pernikahan-pernikahan seperti itulah justeru lahir orang-orang yang memiliki keutamaan besar di dunia dan akhirat.
Pada zaman kita sekarang, agaknya sukar menjumpai model pernikahan yang sederhana seperti itu. Barangkali hanya tinggal di sebahagian daerah Lamongan, Jawa Timur sahaja tradisi pernikahan Islami yang sangat sederhana tetap bisa berlangsung.
Proses pernikahan berlangsung sangat cepat. Sebaik sahaja pinangan diterima –ini yang pernah terjadi– orang tua si gadis langsung menyatakan, kurang lebih, “Bagaimana, akad nikah sekarang?” Jika ya, saksi boleh dipanggil dari tetangga kanan dan kiri. Perkara mahar, mudah sahaja. Boleh dicari. Walimah, boleh dipersiapkan esok. Manakala untuk hidangan sekarang, orang rumah boleh mempersiapkannya.
Saya  tidak  tahu  apakah  ada  daerah  lain  yang  masih  mempunyai  tradisi pernikahan yang sederhana dan Islamik seperti itu. Jika masih ada daerah lain, saya kira itu ada di daerah-daerah berasaskan pesantren yang masih kental budaya pesantrennya. Daerah-daerah Situbondo dan Probolinggo, barangkali.
Wallahu A’lam bishawab.
Siapa yang Menikahkan?
Sesungguhnya  yang  paling  berhak  untuk  menikahkan  seorang  anak  perempuan adalah ayahnya, kerana dia adalah wali bagi anaknya. Tetapi adakalanya, keluarga pengantin perempuan menyerahkan kepada orang lain untuk mengijabkan pernikahan anak perempuannya dengan lelaki yang akan menjadi suami anaknya.
Sesungguhnya pernikahan merupakan ikatan yang suci. Ketika seorang ayah mengucapkan ijab nikah, di dalamnya juga tersirat penyerahan tanggungjawab atas anak   perempuannya   kepada   lelaki   yang   ia   telah   mantap   dengannya.   Ketika mengijabkan, seorang ayah juga telah mempersaksikan bahawa tanggungjawabnya terhadap anak wanitanya telah ditunaikan.
Jadi, ijab nikah bukan sekadar ucapan untuk mengesahkan ikatan batin antara anak perempuannya dengan seorang lelaki yang telah dipilihnya. Di dalamnya juga terdapat tanggungjawab  ruhiyyah,  semoga  pernikahan  ini  menjadi  jalan  kebaikan  bagi orang tua serta keluarga anaknya yang baru saja menikah. Ini antara lain jelas ketika  seorang  ayah  mendoakan  menantu  lelakinya  sebelum  menghantarnya untuk menemui isterinya di malam pertama.
Anas bin Malik r.a. menceritakan kisah perkahwinan Fathimah Az-Zahra r.a. Anas berkata, Nabi bersabda, “Bawakan aku air!” ‘Ali berkata, “Aku tahu apa yang dimaksudkan oleh beliau. Maka aku bangkit dan memenuhi gelas besar kemudian memberikannya. “Beliau mengambilnya lalu meludahinya, kemudian bersabda kepadaku, “Majulah!” Maka beliau menyiram kepalaku dan bahagian depan tubuhku. Kemudian beliau bersabda:
Allahumma innii u’iidzuhu bika wa dzurriyatuhu minasy-syaithaanirrajiim.
Ya Allah, sesungguhnya aku melindungi dirinya dan keturunannya denganMu dari syaitan yang terkutuk.
Beliau  bersabda,  “Menghadap  ke  belakang!”  Maka  aku  pun  menghadap  ke belakang. Lalu beliau menyiram daerah antara dua belikat, lalu berdoa:
Inni u’iidzuhu bika wa dzurriyatuhu minasy-syaithanir rajiim.
Sesungguhnya aku melindunginya dan keturunannya dengan-Mu dari setan yang terkutuk.
Kemudian bersabda, “Hai Ali, temuilah istrimu dengan membaca basmalah supaya mendapat barakah.” (HR. Abu Bakar bin As-Sina).
Abu Bakar bin As-Sina menulis dalam kitabnya, “Abu ‘Abdurrahman memberitahu kepada kami, ‘Abdul A’la bin Washil dan Ahmad bin Sulaiman menceritakan  kepada  kami,  Malik  bin  Isma’il  menceritakan  kepada  kami,  dari ‘Abdurrahman bin Hamid Ar-Rawasi, ‘Abdul Karim bin Salith menceritakan kepada kami, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya r.a. Dia menceritakan perkahwinan Fathimah, lalu berkata: Pada saat malam pertama tiba, Nabi Saw. bersabda, “Hai ‘Ali, jangan mengucapkan apapun sebelum kamu menemuiku.” Kemudian Nabi s.a.w. meminta air. Beliau menggunakannya untuk wudhu, lalu membasuhkannya kepada ‘Ali sambil berdoa:
Allahumma baarik fiihimaa wa baarik ‘alaihima wa lahumaa fii syamlihimaa.
Ya Allah, barakahilah keduanya dengan barakah yang meliputi keharmonisan keduanya.
Ketika seorang ayah mempercayakan anak wanitanya dengan ucapan ijab kepada calon menantu, insyaAllah ia berada dalam keadaan hati yang sangat bersih dan paling besar pengharapannya kepada Allah.
Adapun kalau bukan ayah, maka keluarga perempuan boleh meminta bantuan orang yang  ‘alim  (berilmu)  untuk  mewakili  ayah  perempuan  tersebut  dalam  mengijabkan. Tetapi, siapakah orang ‘alim itu? Wallahu A’lam bishawab. Sepanjang pengetahuan saya orang ‘alim adalah orang yang sangat besar rasa takutnya kepada Allah dan mengetahui halal-haramnya sesuatu perkara.
Wallahu A’lam bishawab.
Ada perkara-perkara lain dalam masalah ijab qabul. Tetapi bukan wilayah saya untuk membahasnya, termasuk yang berkenaan dengan orang yang mengijabkan pernikahan  seorang  wanita  kepada  seorang  lelaki.  Adapun  pembahasan  saya sekilas tentang orang yang menikahkan, yang demikian ini sebagai ikhtiar untuk menyampaikan  apa  yang  lebih  utama  dan  insyaAllah  lebih  besar  barakahnya.
Mudah-mudahan pernikahan yang baru saja berlangsung akan penuh barakah Allah dan dibarakahi  atas  mereka.  Semoga  dari  pernikahan  itu  lahir  keturunan  yang memberi bekas kepada bumi dengan kalimah laa ilaaha illaLlah.
Wallahu A’lam bishawab.
Walimah Itu Ungkapan Syukur
Kalau pernikahan sudah berlangsung, maka suami boleh menyelenggarakan walimah sebagai ungkapan syukurnya kepada Allah. Melalui walimah, ia mengungkapkan kerendahan hatinya dengan meminta doa barakah kepada kaum muslimin yang datang; doa yang sungguh-sungguh, bukan sekadar mengikuti kebiasaan membuat undangan, serta mengumumkan kepada masyarakat bahwa dua orang yang bukan mahram itu kini telah halal hidup bersama.
Rasulullah s.a.w. menganjurkan kepada kita untuk mengadakan walimah ketika kita menikah. Rasulullah s.a.w. mengingatkan dengan bersungguh-sungguh agar kita mengadakan walimah untuk pernikahan kita, sesederhana apapun. Banyak hadis yang menunjukkan perkara ini.  Ketika  Rasulullah s.a.w.  mengetahui  ’Abdurrahman  bin  Auf  menikah  –saat  itu ’Abdurrahman bin Auf tidak menyelenggarakan walimah– maka Rasulullah s.a.w. bersabda, “Buatlah sebuah majlis, adakan walimahan meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing.”
Ada hadis yang senada dengan itu. Dari Anas r.a., ia berkata, “Rasulullah belum pernah mengadakan majlis untuk sesuatu   kejadian sebagaimana yang Rasulullah lakukan terhadap Zainab, “Buatlah walimah, berpestalah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (HR Bukhari dan Muslim).
Masih   banyak   hadis-hadis   lain   yang   berbicara   tentang   perintah   untuk mengadakan walimah. Semuanya menunjukkan bahwa mengadakan walimah untuk sebuah pernikahan sangat penting. Dari sinilah lahir kesimpulan hukum tentang walimah. Sebagian besar ‘ulama sepakat bahwa walimah hukumnya sunnah muakkad.
Dalam hal ini, masalah penting yang perlu kita ingat adalah, titik tolak anjuran walimah ada pada penyelenggaraan walimahnya, bukan pada penyembelihan seekor kambing sebagai pesta minimum. ‘Abdurrahman bin Auf –sahabat utama Nabi s.a.w.– adalah termasuk orang paling kaya di masa itu, sehingga perkataan “meskipun hanya dengan memotong seekor kambing” menggambarkan penegasan tentang pentingnya mengadakan walimah. Tetapi jika untuk memberi mahar cincin besi saja tidak mampu, tentu ia tidak diwajibkan mengadakan walimah dengan menyembelih seekor kambing. Sebab jika ini dilaksanakan, justeru bisa mendatangkan madharat.
Wallahu A’lam bishawab.
Di Indonesia, umumnya majlis walimah diselenggarakan oleh orang tua dari mempelai perempuan. Kerana itulah, saya ingatkan kepada mereka agar memperhatikan kemaslahatan    dalam    menyelenggarakan    pesta    pernikahan    untuk    anaknya.
Menyelenggarakan pesta walimah secara berlebihan sampai di luar kemampuan mereka atau pun menantunya, justeru bisa mendatangkan madharat dan kerosakan sehingga pernikahan yang suci itu kehilangan barakah. Memaksakan diri dalam menyelenggarakan walimah juga bisa menjadi sunnah sayyi’ah, teladan buruk yang apabila dicontohi oleh orang lain akan menyebabkan kita berdosa. Wallahu A’lam bishawab.
Ukuran berlebihan ini boleh dilihat dari dua sisi. Pertama, kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Kedua, penyelenggaraan walimah dibandingkan dengan kemampuan secara peribadi. Pesta walimah yang amat jauh lebih sederhana dari kebiasaan yang berlaku di  dalam masyarakat masih dapat digolongkan berlebihan, apabila untuk mengadakan walimah itu pengantin lelaki atau orang tua pengantin perempuan sampai memaksakan diri melebihi kesanggupan ekonominya saat itu.
Jadi, jika Anda mengadakan walimah dengan menyembelih seekor kambing, sementara untuk membeli seekor ayam pun sangat menyukarkan Anda, maka walimah yang Anda laksanakan sudah termasuk berlebihan. Disebabkan oleh walimah itu, boleh jadi Anda sudah termasuk melampaui batas. Tindakan yang melampaui batas ini akan membawa akibat dalam dua hal. Pertama, beban bagi diri Anda secara peribadi. Kedua, hilang atau berkurangnya barakah pernikahan Anda lantaran agama tidak menyukai tindakan yang melampaui batas, termasuk dalam soal pernikahan. Kecuali Anda menyedari kekeliruan Anda dan beristighfar, mungkin Allah akan mengurniakan barakah dan rahmat-Nya.
Persoalannya kemudian, di zaman kita ini kadang seorang pengantin lelaki tidak diberi  ruang untuk menentukan bagaimana bentuk walimah yang sesuai dengan kemampuannya sendiri secara peribadi, tanpa mengaitkan dengan kemampuan orang tua  atau  saudaranya.  Di  sebahagian  daerah,  adat  istiadat  pernikahan  kaum Muslimin sudah bergeser jauh dari ajaran Islam. Sehingga menyebabkan para pemuda mengalami kesukaran menikah disebabkan oleh tingginya belanja walimah yang perlu ia tanggung. Ketika persoalan ini sudah menyangkut masalah kedudukan keluarga di mata masyarakat atau keluarga besan (mertua), maka persoalan yang suci dan penuh kemuliaan ini bergeser menjadi persoalan harga diri peribadi dan harga diri keluarga. Akhirnya, sistem pernikahan ini tidak menjadikan tumbuhnya peribadi yang  matang,  berdikari,  dan  berani  bertanggung  jawab  –yang  sangat  jarangnya, sampai-sampai terasa seperti slogan. Sistem pernikahan ini lebih cenderung membentuk orang untuk memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap orang lain, sekalipun itu kerabatnya sendiri, dan memudahkan tumbuhnya kekuasaan keluarga terhadap anak-anaknya, walaupun sudah waktunya untuk berdikari. Sistem yang demikian ini juga menyukarkan lahirnya pemuda yang memiliki sikap laisal fataa ma yaquulu kaana abi, wa inna mal fataa ma yaquulu ha ana dza (bukan pemuda mereka yang berkata “inilah bapakku”, tetapi sesungguhnya pemuda adalah yang berkata inilah dadaku).
Selain itu, kerana sistem yang demikian sering mempertaruhkan rasa malu seseorang atau bahkan keluarga di hadapan sekelompok orang atau masyarakat secara terbuka, maka secara jangka panjang mendorong orientasi setiap individu yang ada di dalam masyarakat itu untuk lebih memperhatikan hal-hal yang dapat mengangkat kedudukan keluarga daripada apa yang membawa kemaslahatan sangat besar bagi masyarakat.
Juga,  kerana  sistem  seperti  itu   mempersukar  perkara  yang  sebenarnya mudah, akhirnya menimbulkan perasaan takut pada pemuda untuk memenuhi panggilan agama ini dengan wanita-wanita setempat. Rentetan akibat berikutnya tentu sangat panjang. Salah satu yang sempat saya kenalpasti adalah keluarnya ketentuan dari pemuka masyarakat yang melarang pemudanya untuk menikah dengan wanita-wanita dari lain suku. Ini, tentu saja, merupakan langkah yang tidak tepat dan dapat membawa masyarakat kepada kejumudan yang besar. Disamping itu, langkah yang semacam ini tidak akan mampu mengubati kerosakan sosial dengan sempurna. Langkah itu hanya mengubati simptom (gejala), bukan akar penyakitnya.
Kembali ke soal berlebihan tidaknya majlis pernikahan yang kita selenggarakan. Jika walimah dilakukan berdasarkan kemampuan mempelai lelaki secara peribadi, apakah ini bererti keluarga mempelai lelaki dan keluarga mempelai perempuan tidak boleh mengeluarkan biaya untuk acara tersebut? Letak persoalannya bukan di sini. Letak persoalannya terletak pada ada tidaknya hal-hal yang membuat seorang mempelai lelaki menyelenggarakan walimah jauh melampaui batas kemampuannya, terpaksa atau tidak. Ada pun kalau pihak keluarga mempelai wanita atau keluarga mempelai lelaki ada yang berinisiatif untuk turut membantu menyelenggarakan walimah, insyaAllah baik sahaja, sejauh hal itu memang diniatkan untuk membantu. Apatah lagi kalau niatnya lebih luhur lagi, bukannya sekadar demi mempertahankan harga diri keluarga.
‘Alaa kulli hal, kerana walimah merupakan ungkapan syukur kepada Allah sekaligus majlis untuk meminta doa para hadirin agar pernikahan kita barakah, maka hendaklah walimah itu tidak merendahkan asma’-Nya yang tinggi lagi mulia. Maksud saya, penyelenggaraan walimah hendaknya tidak mengakibatkan kita secara sengaja mengejek Tuhan dengan alasan keadaan dharurat. Misalnya, apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan berhias sebelum memasuki waktu solat Zohor –kadang-kadang malah persiapannya sejak sebelum Subuh– dan melewati beberapa waktu solat tanpa menyentuh air demi menjaga agar keindahan solekan tidak rosak oleh air wudhu.
Saya sempat sedih dan merasa terpukul ketika pada suatu majlis pernikahan, seseorang dengan ringan berkata bahwa Allah Maha Pengampun. Benar bahawa Tuhan Maha Pengampun, tetapi Dia juga Maha Pedih SiksaNya. Saya juga merasa bingung ketika dalam majlis pernikahan yang lain tukang soleknya bercerita, biasanya ia menyolek pengantin sebelum masuk waktu solat, kecuali jika pengantinnya termasuk orang-orang yang dipandang taat. Padahal, itu untuk majlis-majlis walimah yang diadakan pada waktu petang atau malam. Sehingga menyolek sebelum memasuki waktu solat –kecuali jika sedang datang bulan– bererti secara sengaja mengabaikan waktu solat.
Saya belum termasuk orang yang khusyuk. Tetapi ketika mendengar hal yang semacam   itu,   saya   jadi   bertanya   apakah   majlis   pernikahan   itu   tidak   justeru memburukkan ketaatan kita kepada Allah di saat Ia menyempurnakannya? Apakah kita tidak  mendustakanNya  ketika  mengatakan  dharurat  (apa  boleh  buat,  terpaksa begini), padahal saat itu kita sedang mendapat kemudahan dan kebaikan dariNya? Atau, jangan-jangan sikap kita seperti itu memang telah menjadi doa mohon keadaan dharurat sehingga kita sekarang mengalami kesukaran yang bermacam-macam di negeri ini. Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘adzim.
Masih banyak perkara yang boleh kita bicarakan tentang acara walimah nikah ini, semoga walimah tidak menjadikan pernikahan kita berkurang barakahnya. Apatah lagi sampai merosak dan menghapus barakah atas pernikahan kita, sehingga kita mendapati rumah tangga kita kering, gersang, menjengkelkan, dan penuh pertengkaran. Masih banyak yang boleh kita bicarakan agar walimah nikah dapat menjadi ungkapan syukur kita yang jernih dan kerendahan hati kita untuk meminta doa dengan tulus, lalu para tamu pun benar-benar mendoakan dengan hati yang ikhlas (bukan  sebagai  basa  basi  sosial)  sehingga  Allah  berkenan  melimpahkan  barakahNya. Semoga melalui pernikahan yang barakah itu Allah berkenan memberi syafa’at kepada kita, kelak di hari kiamat.
***
Oh ya, satu lagi masalah yang berkenaan dengan walimah. Sebahagian dari kita ada yang bersikap sangat keras sehingga pengantin wanita sama sekali tidak mahu keluar untuk menemui tetamu dari kaum lelaki dengan mengajukan argumentasi (hujjah) perintah hijab bagi Ummahatul Mukminin, isteri-isteri Nabi.
Saya tidak akan berpanjang-panjang dalam soal hijab, kecuali dengan meyakini wajibnya menutup aurat secara sempurna dengan melabuhkan kain yang menutupi dada. Saya tidak berpanjang-panjang dalam soal ini kerana bukan bahagian saya. Yang ingin  saya  sampaikan  kepada  Anda  adalah,  seorang  pengantin  wanita  boleh menemui tetamu lelaki berdasarkan sebuah hadis sahih riwayat Bukhari & Muslim.
Dari Sahal, dia berkata, “Ketika Abu Usaid As-Sa’idi menjadi pengantin, dia mengundang Nabi s.a.w. beserta para sahabat beliau. Maka tidak ada yang membuat makanan dan menghidangkannya pada mereka selain isterinya, Ummu Usaid. Dia telah merendam beberapa biji kurma di dalam satu bejana kecil yang terbuat dari batu pada malam harinya. Tatkala Nabi s.a.w. selesai makan, Ummu Usaid menghancurkan kurma tersebut, lalu menuangkannya sebagai hadiah khusus untuk Nabi Saw.” (HR Bukhari & Muslim).
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, pensyarah sahih Bukhari paling berwibawa, menerangkan, “Hadis ini dapat dijadikan dalil mengenai diperbolehkannya wanita melayani suami dan tamu undangannya, tapi dengan syarat tidak menimbulkan fitnah, serta dengan tetap memperhatikan hal-hal yang wajib dia tutup.”
Ada dua catatan yang diberikan oleh Al-Hafizh sehubungan dengan pembolehan wanita melayani suami dan tamu undangan, iaitu tidak menimbulkan fitnah serta dengan tetap memperhatikan hal-hal wajib dia tutup. Dua hal inilah barangkali yang sukar dijaga sehingga membuat sebahagian dari kita bersikap keras tidak mahu menampakkan diri sama sekali di hadapan para jemputan –yang terdiri dari wanita dan lelaki– lalu ada kesan bahwa menampakkan diri ketika walimah adalah tidak boleh. Padahal untuk melayani undangan lelaki dibolehkan, asal memenuhi dua ketentuan sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar.
Wallahu A’lam.
Masalah ini perlu saya kemukakan kepada Anda atas dua alasan. Pertama, saya melihat sikap tidak mahu menampakkan diri sama sekali mulai merebak, sehingga kadang-kadang menimbulkan “fitnah” di masyarakat. Jika sikap itu disebabkan tidak dapat memenuhi dua ketentuan dari Al-Hafizh, maka yang demikian itu insyaAllah akan membawa kebaikan. Apatah lagi kalau dapat menjelaskan kepada tetamu dengan cara yang baik. Kedua, saya menyampaikan disebabkan oleh kebimbangan saya bahawa hal ini dipandang haram. Sikap ini saya dasarkan pada peristiwa ketika Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu minum sambil berdiri seraya mengatakan kepada khalayak tentang dibolehkan minum sambil berdiri. Selengkapnya tentang peristiwa Sayyidina ‘Ali ini oleh Anda baca pada bab Keindahan Suami istri.
Begitulah. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan membawa kebaikan bagi kita, dunia dan akhirat. Selebihnya, kerana walimah sudah selesai, saya hanya dapat menitip doa semoga pernikahan Anda penuh barakah. Doa yang maksudnya sama dengan doa Anda tatkala mengucup ubun-ubun isteri di malam zafaf:
Barakallahu likulli waahidin minnaa fii shaahibihi.
Semoga Allah membarakahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya.
Ya Allah Ya Rahim, barakahilah pernikahan orang-orang yang mengharapkan barakah-Mu. Allahumma amin.
Ehmm, kerana tetamu sudah pulang ke rumah masing-masing dan burung-burung juga sudah kembali ke sarangnya, maka jangan lupa: malam zafaf Anda telah tiba. Di kamar pengantin, isteri Anda telah lama menunggu. Maka jangan biarkan ia gelisah kerana Anda tak kunjung datang untuk menghabiskan malam bahagia dan penuh barakah (mudah-mudahan. Allahumma amin).
Tapi sabar dulu. Sebelum memasuki malam zafaf, apa yang sudah Anda ketahui tentang malam yang penuh cerita? Bagaimana agar malam zafaf dilalui dengan baik, dan bukannya meninggalkan cerita duka dan benih kekecewaan? Ada ilmunya. Mudah-mudahan Allah menjadikan tulisan berikut ini bermanfaat dan penuh barakah bagi kita semua, terutama bagi Anda yang akan memasuki malam zafaf.
Dan agar Anda tak terlalu gelisah, inilah pembahasan tentang malam zafaf itu. Silakan diteliti.
Memasuki Malam Zafaf
Masa setelah akad nikah adalah saat yang peka. Hari itu seorang jejaka baru sahaja menjadi suami, dan seorang gadis memulai kehidupannya sebagai isteri. Perasaan mereka  sangat  sensitif  ketika  pertama  kali  bertemu  dan  berdekatan.  Ada  salah tingkah,  tapi   ada   perasaan  ingin  dekat.  Ada   rasa   bahagia,  tapi   tak   sedikit canggungnya. Agak takut, tapi juga agak terbuka.
Malam zafaf memang malam yang peka. Kekecewaan di malam ini, boleh membawa pengaruh bagi kehidupan selanjutnya. Kebahagiaan atau sentuhan perasaan yang dalam sangat membantu keduanya untuk hidup bersama menuju keluarga barakah. Keindahan di malam zafaf menjadi jalan untuk saling menerima, saling percaya dan rasa cinta yang diliputi kerinduan-kerinduan halus. Adapun salah tingkah dan canggung, itu adalah rahmat Allah Ta’ala. Maha Besar Allah dengan segala rahmatNya. InsyaAllah ini akan kita bicarakan nanti.
Lalu, apakah malam zafaf itu? Inilah malam ketika seorang wanita pertama kali memasuki rumah suaminya setelah ia dinikahkan. Ini adalah malam ketika ia pertama kali berdekatan dengan suami dalam satu kamar –yang meskipun luas, rasanya sempit sahaja.  Ringkasnya,  malam  zafaf  adalah  malam  pemboyongan  isteri  ke  kamar suaminya.  Pada  masa  sekarang,  malam  zafaf  adalah  malam  ketika  pertama  kali mereka bermalam bersama.
Yang tidak mudah adalah bagaimana menghabiskan malam zafaf itu. Yang demikian  ini  agar  Anda  dapat  menikmati  keindahan  agung  sebagai  suami isteri. Mudah-mudahan dengan demikian malam zafaf Anda akan penuh barakah. Sehingga hari-hari berikutnya Anda merasakan ketenteraman jiwa (sakinah), kecintaan yang tulus (mawaddah) dan rahmah.
Ada beberapa hal yang diajarkan oleh agama kita agar pengantin baru memperoleh kenikmatan yang mesra di malam zafaf. Jika Anda akan memasuki malam zafaf, kesampingkan dulu salah tingkah Anda. Mari kita perhatikan beberapa hal yang mudah-mudahan dapat membawa rumahtangga Anda penuh rasa cinta dan harmonis (ulfah).
Kelengkapan Zafaf
Pengantin baru perlu melakukan beberapa persiapan sehingga malam zafaf terlaksana dengan penuh barakah dan keindahan yang tak dapat dilupakan. Persiapan ini meliputi fizikal,  kebendaan, mahupun persiapan psikologi dan ruhiyyah. Persiapan-persiapan fizikal inilah yang saya sebut sebagai kelengkapan zafaf, semata-mata agar tulisan ini hanya dibaca oleh mereka yang telah memerlukan.
Seorang laki-laki mahupun wanita perlu memperhatikan kelengkapan zafaf ini. Mudah-mudahan  Allah  melimpahkan  barakah  bagi  kedua  mempelai  di  malam pertama mereka.
Kelengkapan Laki-laki
Seorang  lelaki,  kata  Ustadz  Abduh  Ghalib  Ahmad  ‘Isa,  hendaklah  berhias dengan mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, membersihkan janggutnya,  menggunting  kukunya,  mandi  dengan  air  dan  sabun,  dan  memakai pakaian yang baru jika mampu. Jika tidak, maka hendaklah ia memakai pakaian yang bersih.
Seorang lelaki dianjurkan untuk berhias di malam itu. Sebab, hubungan seksual di malam itu mempunyai kesan yang sangat dalam untuk jangka waktu yang sangat lama, kata Mahmud Al-Shabbagh. ‘Aisyah r.a. pernah ditanya, “Pekerjaan apa yang mula-mula dilakukan oleh Nabi pada saat beliau memasuki rumahnya?” ‘Aisyah menjawab, “Menggosok gigi.” (HR Muslim).
Ada kemungkinan, kata Al-Shabbagh, bahawa Nabi Muhammad s.a.w. melakukan hal itu untuk menyambut isteri beliau dengan ciuman. Alangkah manisnya jika seorang suami mencium isterinya bila hendak meninggalkan rumahnya pada pagi hari, dan jika bertemu lagi dengan isterinya pada petang harinya, agar tetap awet muda.
Sebelum memasuki malam zafaf, seorang lelaki hendaklah memotong misainya dan merapikan janggutnya. Janggut bukan untuk dicukur, kerana memanjangkan janggut  merupakan  sunnah.  Sedang  wangian  akan menyempurnakan kelengkapan fizikal sehingga lebih indah bagi Anda berdua. InsyaAllah.
Kelengkapan Wanita
Wanita  hendaklah  melakukan  beberapa  hal  untuk  memasuki  malam  zafaf. Wanita hendaklah memotong kuku-kukunya terutama kuku jari-jemari tangan. Yang demikian ini agar tidak menjadikan malam zafaf kurang enak di hujungnya, kerana ketika wanita mencapai puncak kenikmatan dalam berhubungan intim, wanita banyak mengenakan jari-jemari tangannya pada suami dengan cengkaman yang kuat.
Mengenai bulu, wanita hendaknya dalam keadaan bersih ketika memasuki malam zafaf. Ia telah mencukur bulu ketiaknya sehingga bersih. Juga mencukur bulu kemaluannya. Yang demikian ini termasuk perkara-perkara sunnah.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Kami pernah bersama-sama Nabi s.a.w. dalam suatu perang. Pada saat kami telah selesai, kami bergegas menunggangi unta yang lambat jalannya, sehingga aku tersusul oleh seorang penunggang dari belakangku. Lalu aku menoleh, dan tiba-tiba aku bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu tergesa-gesa?’
Aku menjawab, ‘Baru saja aku menikah (menjadi pengantin).’ Beliau bertanya, ‘Gadis atau janda yang engkau nikahi?’
Aku menjawab, ‘Janda!’
Nabi bersabda, ‘Hendaklah engkau menikah dengan seorang gadis agar engkau dapat bermain dengannya dan ia dapat bermain denganmu.’
Jabir berkata, ‘Maka pada saat kami tiba, kami berangkat untuk masuk (ke kawasan tempat tinggal – pent).’
Beliau lantas berkata, ‘Bersabarlah! Masuklah (ke kawasan tempat tinggal – pent) kalian pada waktu malam atau waktu Isya’ agar wanita yang rambutnya kusut dapat menyisirnya dan wanita yang ditinggal pergi dapat mencukur bulu kemaluannya.’(HR Bukhari).
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Lima perkara dari fithrah; mencukur bulu kemaluan, berkhitan, menggunting misai, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR Jama’ah).
Dari  Anas  bin  Malik  r.a.,  berkata,  “Telah  dijangkakan  waktu  untuk  kami terhadap urusan menggunting misai, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari, yakni jangan lebih dari empat puluh hari sekali.” (HR Muslim dan Ibnu Majah).
Inilah perkara-perkara sunnah yang berkenaan dengan kebersihan. Melaksanakannya insyaAllah akan dirahmati. Sehingga kita mendapatkan kemanisannya kelak setelah hari perhitungan. Apalagi untuk malam zafaf. InsyaAllah ada hikmah yang sangat besar di dalamnya. Sebagian kecil dari hikmah itu adalah agar di malam zafaf itu pengantin wanita memiliki askhanu aqbalan.
Apa yang dimaksud dengan askhanu aqbalan? Askhanu aqbalan adalah lebih hangatnya vagina pada seorang wanita. Sebahagian sahabat Nabi menganjurkan kita agar tetap menikahi gadis-gadis kerana lebih hangat vaginanya (askhanu aqbalan). Mereka lebih hangat dibanding janda. Dan seorang gadis dapat mencapai yang lebih hangat lagi dengan mencukur rambut kemaluannya sehingga bersih.
Dalam sebuah hadis disebutkan,
“Kahwinilah oleh kalian perawan sebab perawan itu lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya, lebih hangat vaginanya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit.” (HR Abu Na’im melalui Ibnu Umar r.a. Periksa Mukhtarul Ahaadits).
Manfaat mencukur bulu kemaluan bagi wanita, agar ia lebih dapat terdorong gairahnya untuk menikmati hubungan seksual pertama bersama suaminya. Sementara suaminya belum begitu ia kenal. Kalaupun sebelumnya sempat mengenal, tak pernah sedekat  ini.  Sehingga  ada  salah  tingkah,  canggung,  sekaligus  perasaan  malu bercampur rindu dan takut.
Kalau  ghairahnya tumbuh  dan  perasaannya terbangkitkan, insyaAllah malam zafaf akan menjadi malam yang sangat mengesankan dan sukar untuk dilupakan. Adapun bagi lelaki, bersihnya kemaluan wanita dan askhanu-aqbalan dapat membuatnya lebih bersemangat sekaligus memudahkannya melaksanakan tugas sucinya dengan baik, sekalipun ia masih gugup dan berkeringat cemas. Mudah-mudahan mereka memperoleh kenikmatan yang sempurna dan penuh barakah. Mudah-mudahan dari pertemuan pertama di malam zafaf itu lahir keturunan yang memberi bekas kepada bumi dengan kalimah laa ilaha illaLlah.
Malam itu pengantin perempuan juga perlu memakai wangi-wangian, agar malam zafafnya dipenuhi malaikat rahmat dan menjadikan suami terkesan kerana bau yang pertama kali tercium dari isterinya adalah yang sedap. Wewangian ini terutama dipakai pada daerah-daerah lipatan, iaitu lipatan telinga, lipatan jari-jemari, ma’athif (antara leher dan geraham), kening, lipatan payudara serta kemaluan, iaitu pada dinding-dindingnya serta permukaannya, bila perlu. Khusus pada daerah lipatan, kalau pun tidak sempat memberi wewangian, cukuplah dalam keadaan bersih.
Dari ‘Aisyah r.a., berkata, “Sepuluh perkara dari fithrah; menggunting misai, menurunkan sedikit janggut, menggosok gigi, berkumur-kumur dan menghisap air ke dalam hidung, memotong kuku, membasuh lipatan-lipatan anak jari, lipatan-lipatan telinga, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari, beristinja, dan saya telah lupa yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur.” (HR Ahmad, Muslim, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi).
Dalam   sebuah   hadis   sahih   ‘Aisyah   menceritakan   kepada   kita   tentang wangian wanita. Katanya, “Kami keluar bersama Nabi s.a.w. ke Makkah. Maka kami ikatkan pada dahi pembalut yang diberi wangian ketika kami berihram. Ketika salah seorang dari kami berpeluh dan mengalir di wajahnya, lalu Nabi s.a.w. melihatnya, maka beliau tidak melarangnya.” (HR Abu Dawud, shahih).
Dari Umainah binti Rafiqah, bahawa isteri-isteri Nabi s.a.w. membuat pembalut-pembalut yang di dalamnya terdapat wars dan za’faran, lalu mereka mengikatkan pada bagian bawah rambut mereka dari dahi mereka, sebelum mereka berihram. Kemudian mereka berihram dalam keadaan seperti itu. (HR Ath-Thabrani)3.
Mengharumkan kemaluan setelah membersihkan dengan kapas, terdapat pada tuntunan bersuci dari haid. Di malam zafaf, ada baiknya wanita memasukinya dalam keadaan telah memberi wangian pada kemaluannya.
‘Aisyah menerangkan bahwa Asma’ bertanya kepada Rasulullah s.a.w. tentang mandi haid. Nabi menjawab, “Hendaklah seseorang kamu mengambil air beserta daun bidara, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya. Kemudian sesudah itu, hendaklah menyiramkan air atas kepalanya dan menggosok-gosoknya, hingga sampailah air ke pangkal rambutnya. Sesudah itu, baru menuangkan air ke dalamnya. Sesudah itu, hendaklah ia mengambil sepotong kapas yang sudah dikasturikan (diberi minyak wangi), lalu ia membersihkan diri dengan dia.”
Kala itu Asma’ bertanya, “Bagaimana ia membersihkan diri dengan kapas yang dikasturikan itu, ya Rasulullah?”
Nabi menjawab, “Subhanallah, kau bersuci dengan itu.”
Ketika itu ‘Aisyah dengan suara yang halus berkata, “Kau menggosok-gosokkan dengan dia tempat-tempat bekas darah (pada dinding kemaluan) yang telah kotor dengan darah haid.”
Dan Asma’ bertanya lagi tentang mandi janabah. Maka Nabi menjawab, “Hendaklah ia mengambil air, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya. Kemudian barulah ia menuangkan air atas kepala dengan menggosok-gosokkan kepalanya sehingga air itu sampai ke pangkal rambutnya (ke tulang kepala). Sesudah itu barulah ia menuangkan air atas badannya.”
Di  akhir  pembicaraan,  ‘Aisyah  berkata,  “Sebaik-baik  wanita  ialah  wanita Anshar. Mereka tidak malu bertanya tentang hal-hal agama.” (HR Muslim, sahih).
Berkenaan dengan berhias dan wangian bagi wanita, ada baiknya kita mengingat hadis dari Abu Hurairah.
Wangian lelaki adalah yang jelas baunya dan tersembunyi warnanya. Dan perhiasan wanita adalah apa yang jelas warnanya dan tersembunyi baunya. (HR An-Nasa’i dan At-Tirmidzi. Muhammad Nashiruddin Al-Albani menilai hadis yang dikeluarkan At-Tirmidzi sebagai hadis sahih).
Perhiasan seorang lelaki adalah yang jelas baunya dan tersembunyi warnanya. Ini adalah perhiasan yang terpuji bagi lelaki. Sedangkan bagi wanita, perhiasan yang terpuji adalah yang jelas warnanya dan tersembunyi baunya. Maksud perkataan ini adalah, wangian yang dipakai seorang wanita tidak boleh tercium harumnya oleh orang lain kecuali dengan betul-betul berdekatan. Dan tidak ada lelaki yang diperbolehkan untuk berdekatan dengan seorang wanita dengan kedekatan yang rapat kecuali suaminya. Wallahu A’lam bishawab.
Kelak ketika tak ada mata yang melihat kecuali mata suaminya, wanita boleh memakai ghumrah (pemerah pipi dari minyak za’faran). Juga boleh menggunakan perhiasan lain. Wanita-wanita dewasa dapat menghias pengantin wanita sehingga menjadi wanita tercantik dan paling anggun di malam itu, sebagaimana para wanita dahulu juga menghias ‘Aisyah sebelum dipertemukan dengan Rasulullah s.a.w.
Selain itu, wanita ada baiknya bercelak. Dari Ibnu ‘Abbas r.a., berkata, “Nabi s.a.w. bersabda, ‘Hendaklah kamu selalu bercelak, kerana celak itu menumbuhkan bulu mata, menghilangkan kotoran-kotoran pada mata dan membersihkan penglihatan’.(HR Ath-Thabrani).
Tapi terlarang baginya untuk mencukur alisnya. Mencukur alis merupakan salah satu cara berhias untuk memperoleh kesan   mata lebih ayu. Mata yang terkesan terlalu lebar –menurut pemilik mata bersangkutan– dapat diubah kesannya menjadi lebih sepet dengan cara mencukur sebagian alis. Tetapi Rasulullah s.a.w. melarang cara ini.
Nabi  s.a.w.  melaknat  cara  ini.  Kerana  itu,  tidak  ada  tempat  bagi  wanita  untuk mempercantik diri dengan mencukur alis. Kata Ibnu Mas’ud r.a. :
Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang membuat tahi lalat, perempuan yang minta dibuatkan tahi lalat, perempuan yang menipiskan alis mata dan perempuan yang mengikir giginya supaya menjadi baik yang mengubah ciptaan Allah. Kemudian ada seorang perempuan yang bertanya kepadanya tentang itu. Maka beliau berkata, “Bagaimana  aku  tidak  melaknat  orang  yang  dilaknat  oleh  Rasulullah  s.a.w., sedangkan di dalam kitab Allah, Allah Ta’ala berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”
Di malam itu, wanita juga boleh menggunakan cincin untuk berhias. Masih ada pembahasan lain yang lebih khusus berkenaan dengan persiapan untuk melakukan hubungan intim. InsyaAllah kita akan membicarakan dengan tenang masalah ini pada bab Keindahan Suami isteri. Adapun untuk memasuki malam zafaf, insyaAllah pembahasan ini telah cukup.
Kelengkapan Tambahan
Ada  kelengkapan  tambahan  yang  boleh  dilakukan  oleh  suami.  Sebelum memasuki malam zafaf, suami boleh menata tempat tidur dengan baik. Ia menutupnya dengan cadar yang bersih. Cadar yang baru diseterika insyaAllah lebih baik, kerana lebih memberikan kenyamanan dan kehangatan. Juga, suami dapat memberi wangian pada permukaan cadarnya sehingga harum dan sedap.
Pada masa sekarang, malam pertama umumnya di rumah orang tua isteri. Kerana itu, sebaiknya isteri yang menata tempat tidur dan memberikan cadar yang hangat. Seorang wanita insyaAllah dapat memilih perfume untuk tempat tidurnya yang bagus, tidak terlalu harum dan tidak menyengat baunya. Ia boleh memilih bau-bau yang lembut, jika memungkinkan. Adapun kalau sukar dilakukan, cadar yang bersih telah cukup.
Berkenaan dengan pakaian pada malam zafaf, seorang lelaki hendaklah tetap menjaga agar pakaian yang dikenakan tidak memperlihatkan aurat. Sebab yang demikian itu makruh, kata Abduh Ghalib Ahmad ‘Isa menjelaskan. Ia boleh mengenakan pakaian yang menarik, tetapi tetap sederhana.
Pengantin perempuan boleh mengenakan pakaian-pakaian yang bagus dan menarik, sehingga ia terlihat anggun di malam itu. Wanita juga bisa mempertimbangkan untuk menggunakan pakaian yang tidak menyukarkan tugas suami. Mungkin suami Anda termasuk yang masih canggung dan rikuh.
bersambung di bahagian kedua…
Mohammad Fauzil Adhim
(Kado Pernikahan)

0 komentar:

Posting Komentar